- See more at: http://arsipblogarif.blogspot.com/2012/08/cara-membuat-cursor-animasi.html#sthash.Qf7Gv4Ne.dpuf

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan

Mengenal Sejarah Batik Solo

Written By Unknown on Kamis, 22 Agustus 2013 | 23.25

Mengenal Sejarah Batik Solo

Mengenal Sejarah Batik Solo - Sejarah batik di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, perkembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.


Jadi batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaianyang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jaman Majapahit batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya.

Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik solo dan Yogyakarta.

Sejarah Batik Semarang dan Perkembangannya


Sejarah Batik Semarang dan Perkembangannya

Sejarah Batik Semarang dan Perkembangannya - Sejarah Batik Indonesia. Batik merupakan warisan sejarah bangsa Indonesia, namun sejak kapan manusia mengenal seni mendekorasi kain atau biasa disebut membatik itu? Apakah batik benar-benar berasal dari bahasa Jawa? Tak satupun dari para ahli atau peneliti batik berani memastikan asal mula batik. Yang jelas Elliot seorang peneliti, pecinta dan kolektor batik dari Amerika Serikat berani mengatakan bahwa batik telah ada di pulau Jawa tiga abad sebelumnya, yaitu pada abad ke-16. Definisi batik secara umum yang telah disepakati pada saat konvensi batik Internaional di Yogyakarta pada tahun 1997 adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik, dan dikatakan tekstil bermotif batik. Lalu, Bagaimana dengan Batik Semarang?

sejarah batik semarang dan perkembangannya


JEJAK SEJARAH BATIK SEMARANG

Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga banyak akulturasi budaya terjadi. Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, apalagi memiliki motif dan pakem yang jelas. Mengapa Semarang sebagai wilayah perbatikan kurang banyak disebut ? hal ini sangat dimungkinkan karena di wilayah tersebut jumlah produsen batik relative kecil ketika meningkatnya pengusaha batik Indo-Eropa dan Cina peranakan. Hal itu begitu berbeda bila dibandingkan dengan wilayah pekalongan.

sejarah batik semarang dan perkembangannya

Pada tanggal 24 Juli 2007, pemerintah kota Semarang melalui Disperindag me-launching batik Semarang melalui sebuah seminar yang membahas mengenai motif dan identitas batik. Dan disepakati bahwa bahwa batik Semarang adalah batik yang diproduksi oleh orang atau warga kota semarang dengan motif atau ragam hias yang berhubungan dengan ikon-ikon Semarang. Pengertian itu belum definitif karena tidak menutup kemungkinan masih berlanjutnya penelitian mengenai batik Semarang.

MOTIF BATIK SEMARANG

Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.

Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.

Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.

Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja.

BATIK- BATIK DI SEMARANG

1. Franquemont dan Oosterom

Batik Franquemont memiliki warna beragam dengan warna hijau sebagai kekhasan dan memiliki pola-pola bermotif Eropa, Cina dan pesisir utara khususnxa Madura dan pola dari keraton. Franquemont juga mengambil figure-figur dan atribut dari berbagai dongeng Eropa yang ditampilkan berulang pada badan kain batik.


Batik Oosterom cirinya memiliki pola yang rumit salah satu kreasinya dengan motif pola sirkus yang menggambarkan penunggang kuda, orang berdansa, bangunan mirip kastil, pohon palma, dilengkapi dedaunan dan burung mirip phoenix.

2. Tan Kong Tien

Motif-motif batik dari “Batikkerij Tan Kong Tien” merupakan hasil akulturasi motif pesisiran yang berkarakter terbuka dan motif keraton. Contoh motif dasar parang yang merupakan motif batik keraton, seringkali dipadu dengan motif burung merak.


3. Neni Asmarayani

Neni membuka galeri batik pada tahun 1970-an di Semarang dan melibatkan beberapa pelukis dan seniman ternama dalam penciptaan desain. Ada dua motif nuansa Semarang yang diciptakan yaitu Warak Ngendog dan Pandan Arang. Namun usaha pembatikan ini kemudian tidak berlanjut.


4. Batik Semarang 16

Setelah sekian lama vakum pada tahun 2005, Umi. S. Adi Susilo aktif menghidupkan kembali aktivitas perbatikan. Selain banyak mengadakan pelatihan batik juga membentuk perusahaan kerajinan Batik Semarang 16. Ratusan motif telah dihasilkan Batik Semarang 16 terutama motif-motif baru yang berhubungan dengan landmark kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Pohon Asem, Blekok Srondol dan banyak lagi. 11 motifnya telah dipantenkan di HAKI.


5. Kampung Batik

Merupakan sentra batik di Semarang yang pernah mengalami kejayaan pada zaman Belanda. Tak hanya Kampung Batik yang merupakan tempat perajin batik, tetapi juga Bugangan, Rejosari, Kulitan, Kampung Melayu, dan Kampung Darat, yang notabene adalah kampung-kampung yang terletak di sekitar pusat Kota Semarang tempo dulu. Berdasarkan penelitian Dr Dewi Yuliati MA dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip Umumnya orang Semarang tempo dulu membatik dengan motif naturalis (ikan, kupu-kupu, bunga, pohon, bukit, dan rumah), thdak simbolis seperti batik-batik di Surakarta dan Yogyakarta. Motif naturalis menjadi ciri khas batik yang diproduksi oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Ciri itu dapat dimaknai sebagai karakter masyarakat pesisir, yang lebih terbuka dan ekspresionis jika dibandingkan dengan masyarakat di Surakarta dan Yogyakarta, yang lebih dilingkupi oleh sistem simbol, norma-norma, dan aturan-aturan di bawah kekuasaan raja.


6. Desa Gemawang

Berdasarkan literatur, sejak jaman Hindia Belanda di wilayah ini memang telah ada industri batik. Setelah Gunung Ungaran meletus hebat sekitar tahun 1800-an, kerajinan batik lalu menyebar ke berbagai wilayah. Batik Gemawang mulai bangkit pada tahun 2005, setelah diadakan pelatihan membatik. Batik ini mempunyai ciri khas unsur batik kopi, tala madu dan baruklinting. Sedangkan pewarnaan utama menggunakan indigo (indigofera).

Popular post

ikuti

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Info Blog.Com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger